Sabtu, 29 Januari 2011

awan jingga


AWAN JINGGA

Dan jika harus ku terima kenyataan ini dokter mendiapnosa aku 5 bulan lagi, aku akan pergi atau aku di nytakan tak bisa hidup terlalu lama, aku menderita leukimia.
            Santai  ku buka jendela, banyangn tubuhku menempel pada tembok kamarku, kicauan burung terdengar jelas dari balik jendela yang barusan aku buka. Hidupku tak seindah yang kalian bayangkan, hidup bahagia di tengah orang-orang yang menyayangi ku, di tengah-tengah orang yang bias membuatku tersenyum bahkan tertawa. Inilah hidupku.
            “hai Jingga”, sapa seseorang dari balik tembok.
            “iaa???”. Jawabku seadanya
            “mau kemana?”, tanyanya santai yang padahal Jingga pun tak mengenalnya.
            “ehm mau ke sekolah”
            “oh ia yah”, kan sekarang kamu pakai seragam”, jawab perempuan itu seadanya.
            “kenapa?, ehm maaf , sepertinya aku enggak pernah kenal kamu hehee”, Tanya ku
            “jelas lah, kita kan belum kenalan, aku Pelangi, aku anak kelas 9E, kamu Jingga anak kelas 9A kan?, aku emang jarang keluar dari kelas ku, aku cenderung lebih suka diam di kelas dan-“, putusnya
            “dan apa?”, Tanya ku.
            “lihat jam kamu Ingga!”, sambil melirik jam tangan Jingga
            “oh god, liat!” sambil menjulurkan pergelangan tangannya yang di selimuti jam tangan. Menunjuk pukul 06.50.
            “WAAAAAA”, teriak Jingga dan Pelangi bersamaan. Lalu langsung berlari kencang.
            Sampai di sekolah, telat. Gerbang sekolah di tutup rapat. Untungnya bukan hanya kami yang berada di luar sekolah, namun ada beberapa anak juga yang berdiri mematung di depan gerbang sekolah.
            “ok, kita telat”, kesimpulanku kesal
            “yaudahh lahh , bentar lagi juga kita boleh masuk”,santai Pelangi
            Hingga..
            “kalian semua masuk”, pinta seorang guru lalu membuka gerbang lebar-lebar
            Kami semua langsung masuk ke dalam sekolah, setelah beberapa menit kami berdiri menjadi bahan pandangan.
            “hahh, akhirnya”, ujar Pelangi sambil menyeka keringatnya
            “liatt dehh itu”, kata Jingga sambil menganga melihat lelaki yang lewat di depannya
            “apaan?”, Tanya Pelangi sekali lagi, lalu mulai mengerti setelah Jingga kembali menunjuk lelaki itu. “oh diaa, dia Awan ,Ing”, jawab Pelangi seolah membongkar keheranan Jingga. “why? Are you get a crush with him? Haha”
            “hahahahahaaa”, jawabku dengan candaan
            Sejak saat itu, Jingga dan Pelangi mulai bersahabat. Mereka habiskan waktu mereka bersama, bahkan Jingga hampir melupakan apa yang dokter katakana padanya. Jingga pun tak ingin membuat Pelangi khawatir dengan apa yang dokter katakan padanya, ia hanya ingin Pelangi menyayangi Jingga bukan karna kasihan, atau hanya ingin mengisi hari-hari Jingga dengan tawa namun terpaksa.
            Pelangi pun kini mengajarkan Jingga tentang arti hidup, parahnya orang tua Pelangi telah meninggal dua bulan yang lalu akibat kecelakaan, sekarang Pelangi tinggal bersama tantenya. Pelangi dapat dikatakan sebagai anak milioner, dia anak tunggal, seluruh warisan jatuh ke tangannya, dan Pelangi mempercayai itu semua pada tantenya. Pengalaman hidup Pelangi jauh lebih miris dari pada apa yang Jingga alami. Orang tua Jingga, bercerai baru-baru ini, Jingga bagaikan barang, setiap seminggu sekali ia berpindah rumah, ke rumah ayahnya lalu ke rumah Bundanya. Ia bahkan tak percaya jika hidupnya ini akan berjalan terjal, sejak kejadian itu pun, Jingga mulai sulit tersenyum, ia berubah menjadi Jingga yang diam, yang sebelumnya Jingga ceria, ia sekarang menjadi Jingga yang kelam, tanpa senyum. Jingga pun tak pernah menceritakan apa yang dokter katakan pada orang tuanya. Sebenarnya, ketika Jingga hampir menceritakan itu, orang tua, orang tuanya lebih dulu bercerai. Sejak saat itu, JIngga merasa tak pernah ada yang menyayanginya.
            Jingga hanya berharap Pelangi dapat meminjamkan pundaknya untuk kesedihanku yang kemungkinan semakin bertambah.
            “enggak kerasa kita udah bersama satu bulan yah”, kata Pelangi sambil melihat kalender dan melihat tanggal 14 February  2010, karna Pelangi mulai mengenal Jingga tanggak 14 January 2010.
            “semuanya seakan berjalan cepat”, senang Jingga tanpa melepas headset nya yang masih terdengar jelas lagu check yes Juliet, dari we the kings.
            “hahahhaaaaa”, sambil menyatukan lima jari Jingga dan Pelangi. Mereka sangat senang saat itu.
            Kini Jingga mulai memanjangkan bibirnya 2 cm ke kanan dan k e kiri.
            “eh aku ke kelas yah”, kata Jingga sambil melepas i-pod nya
            “ok. Istirahat ke kelas aku yah, Ing”, pinta Pelangi
            “sip”, sambil mengancungkan jempolnya dan menghilang dari pandangan Pelangi.
            “BLAMMNN”, dentaman pintu yang di dorong mengarah tepat pada lenganku yang saat itu aku sedang merapikan tali sepatu ku.
            “awwwwww”, teriakku kesakitan. “sakittt”, keluh Jingga sambil memegang lengannya yang nampaknya memar
            “eh Ingga, maaf yaaah Ing”, kata salah satu teman lelaki yang melakukan perbuatan pada Jingga
            “ia “, keluh kumasih merintih kesakitan
            Jingga  di tuntun masuk ke UKS sekolah. Berbaring sambil mrintih sakit.
            “sakit”, ujar Jingga sambil tersedak air mata
            Pelangi keluar dari kelasnya dan masuk ke UKS. Dilihatnya Jingga yang menangis.
            “kenapa?”, Tanya Pelangi yang lalu di jelas kan oleh salah satu temanku.
            “kenapa ini?”, Tanya seorang lelaki yang sepertinya Jingga pernah kenal
            “eh kamu Wan, tolong dong ini. Temen aku. Kayanya terkilir”, singkat Pelangi. Awan pun langsung menghampiri Jingga dan memeperhatikan tangan Jingga lalu mengangkatnya.
            “arrgggggh, sakit”, teriak Jingga
            “eh maaf. Maaf. Kayak nya parah, lebih baik kamu pulang dank e rumah sakit sepertinya tangan kamu harus di rawat sama yang ahlinya deh”, ujar Awan. Jingga masih terkesima dengan paras Awan, lelaki polos ketua PMR.
            Jingga bertahan, hingga akhirnya dia dapat pulang saat memang jam pelajaran selesai.
            Bunda seperti tak bias mengantar Jingga, dia terlalu sibuk dengan bisnis barunya yang sampai ke luar negri. Untung masih ada ayah, ayah mengantar Jingga sampai ke rumah sakit, hingga pulang Jingga memakai gips yang mungkin selama beberapa bulan ini akan mengganggu geraknya.
            “yah, besok aku sekolah kayak gini ya?” sambil melihat tangan kiri Jingga yang ini akan di gendongnya kemana-mana
            “ia sayang. Tenang lah, nanti juga di lepas kok”, jawab ayah kalem, Jingga hanya mengangguk karnannya
            Sekolahhhh lagiii………..
            “hahahaaaa, akhirnya tangan kamu di gendong yang Ing?”, canda Pelangi
            “ah kamu ni, temen menderita di ketawain”, kesal Jingga.
            Tawa Pelangi meredam ketika Awan menghampiri mereka.
            “udah enggak pa-pa kan?”, Tanya Awan seolah khawatir
            “enggak”, jawab Jingga
            “eh Wan, kita mau ke kantin nih. Mau ikut?”, ajak Pelangi
            Jingga melihat gerakan mata Pelangi yang seolah mengajak Awan untunk menjawab ‘ia’.
            “mau ngapain nih anak? Tiba-tiba ke kantin. Di depan dia mana mungkin aku bisa makan, yang ada malah grogi”, kata ku dalam hati sambil tertunduk
            Awan menolak ajakan Pelangi. Akhirnya mereka pergi ke kantin berdua.
            “ngapain ngajak Awan ke kantin sih?”, kesal Jingga sambil memanyunkan bibirnya
            “haiooo, kamu suka kan Ing? Haiiooo? Udah lahhhh jangan ngibul deh sama akuu, kamu kira aku enggak tau apaa”, singkat Pelangi membongkar rahasia Jingga
            “sepertinya ia J”,senyum Jingga
            “ahkkk kamu! Kok sepertinya. Enggak yakin sendiri sama perasaan kamu sendiri, aneeh dehhh”, gerutu Pelangi sambil meminum minuman sodanya
            “suka atau enggak yaahhhh??”, Tanya Jingga pada dirinya sendiri
            “anehh”, putus Pelangi sambil mendorong pundak Jingga
            Jingga terkikik sendiri sambil menahan senyum malu-malunya.
            “ehhhhh kaliannn, aku boleh gabung engak. Tawarannya aku terima nihh”, kata Awan yang tiba-tiba muncul di belakang Jingga
            “oh boleeeh baanget”, kata Pelangi memotong yang sebelumnya ingin Jingga melarang nya. Awan pun duduk di samping Jingga. Tiba-tiba badan Jingga dingin dan mulai berkeringat, ia merasa darah nya muai menaik ke otaknya dan dentaman jantungnya yang tak seperti biasanya
            “ehh kalian di sini bentar yah, aku mau ke kelas ambil sesuatu. Kalau dalam 5 menit aku enggak dating, kalian balik ke kelas kalian aja dehh,dahhh”, pendek Pelangi tinggal kan Jingga dan Awan.
            Lima menit berlalu, Pelangi tak kunjung kembali pada mereka.
            “ehh, balik aja yah? Si Pelangi mungkin lupa sama kita, kalau kita di sini”, pinta Awan lalu membantuku keluar dari kursi yang memang panjang itu
            “okee dehh”, jawabku. Tak sengaja tangan Jingga tersenggol salah seoraang yang lewat di sampingnya. “awwww”, keluhnya sambil melihat tangannya
            “kamu enggak pa-pa Ing? Kenapa Ing?” Tanya Awan yang tiba-tiba perhatian
            Kami berdua terdiam di posisi itu, aku merasa tangan ku sama sekali tak merasa sakit, Jingga terdiam sambil tersenyum
            “haha”, Jingga balas raasa posesif Awan dengan tawa
            “hehee”, Awan pun tertawa dan langsung berjalan di samping        Tanpa mereka ketahui, Pelangi melihat senyum ceria mereka.
            “woo, berhasil”, kata Pelangi sambil menggengam tangannya
            Bel pulang bebunyi begitu nyaring, bahkan Jingga amat senang mendengar bel barusan, ia menghampiri kelas Pelangi yang berada tidak jauh dari kelasnya. Kini jingga benar melupakan perih yang ia rasakan, biarlah orang tuanya berpisah dan biarlah mereka yang selesaikan masalah mereka tanpa aku,dan biarlah aku sejenak tinggalkan apa yang dokter katakana pada ku, Jingga hanya ingin merasakan suatu cinta di hidupnya, Jingga hanya ingin untuk terakhir kalinya ia tersenyum bangga di samping orang yang ia sayang.
            “PELANGI”, sapa Jingga dari luar kelas Pelangi
            “ehhh Ingga, yuuk balik”, pinta Pelangi sambil menarik tangan Jingga
            Seketika saat Pelangi menarik Jingga, Jingga malah melemas dan sekujur tubuhnya mendadak dingin, sedingin batu es. Jingga pinsan dan tiba-tiba terduduk dipintu kelas Pelangi. Mendadak Pelangi histeris.
            “jinngga, kenapa kamu”, tanya Pelangi bingung sambil menepuk pipi Jingga berkali-kali
            Hingga akhirnya Jingga sadar ia telah berada di kamar rumah sakit.
            “pasti di rumah sakit”, tebak Jingga sambil tersenyum dan tersadar dari koma yang berlangsung 3 jam
            “ia!”, kesal Pelangi “kamu kenapa sii, Ing? Tiba-tiba pinsan, badan loe dingin tau enggak. Gue bingung mesti gimana. Tapi untunglah kamu sadar”, kata Pelangi menurunkan nada bicaranya
            “JINGGA”, tebak Awan yang seolah tergesa
            Pelangi dan Jingga serentak beralih pandang ke arah suara itu yang ternyata adalah suara Awan
            “awan?”, senyum Jingga dan langsung mendekap Awan saat Awan ada tepat di samping kasurnya
            “ia Ingga, gue di sini”, sejuk Awan yang membalas pelukan Jingga
            “permisi,”, ucap salah satu dokter yang tiba-tiba datang ke kamar Jingga
            “ia, silakan dokter”, balas Jingga seolah mengenal lama dokter itu
            “ayah mana Ingga? Bunda”, tanya dokter itu beruntun
            “nanti juga kesini, itupun kalau dia tau”, ujar Jingga dengan nada kecewa
            “yaudah, biar saya yang telpon mereka”, pinta dokter itu hampir keluar dari kamar dokter
            “jangan!”, kata Jingga tiba-tiba “biar aku aja yang telpon, ehmm dokter bisa ke samping ku sebentar?”, pinta Jingga
            “tentu”
            “apa ini akhir hidup ku?”, tanya Jingga pada dokter itu sembari berbisik. Pelangi dan Awan hanya memperhatikan gerak-gerik mereka dengan seksama.
            “don’t think like that”, balas dokter itu
            Akhirnya Jingga bermalam di rumah sakit, bersama bau nya yang khas dan infuse yang senantiasa mendampinginya.
            “satu hari deh aku disini”, kata Jingga pada Pelangi yang semalaman menjaga Jingga
            “tenangg besok pulang”
            Dokter itu pun untuk yang kesekian kali nya memerikasa keadaaan ku yang sepertinya nampak buruk, darah putih kini telah mengambil alih kerja darah merah. Keadaan yang semakin buruk ini, membuat Jingga mengingat kembali jika apa yang dia harapkan, sepertinya tidak akan terjadi, bahkan yang lebih buruk, Bunda Jingga kini pindah ke Australia, sedangkan Ayahnya tetap di Indonesia meskipun dalam satu minggu harus pulang-pergi ke berbagai kota bahkan Negara.   
            “harapan hidup”, kata JIngga tiba-tiba, membuat Pelangi tiba-tiba menganga
            “maksud kamu apa?”, heran Pelangi
            “aku kena leukimia Ngi, aku sakit, parahh”, sedih Jingga hingga air matanya jatuh “dan kamu tau, di ujung akhir ku, aku enggak bisa mendapatkan apa yang aku pengenin!”, yang ujungnya Jingga menjelaskan apa yang terjadi
            “kenapa kamu enggak bilang dari duullu sih Ing? Kenapa?, kenapa baru sekarang kamu ngomong!? HAH?”, kecewa Pelangi sambil menggenggam tangan Jingga
            “maaf, aku enggk mau kamu jadi sahabat aku karna kasihan sama aku!”, jelas Jingga
            “aku tulus bersahabat sama kamu tulus Ingga, kenapa si kamu kayak gini?”
            “ia maaf”, pinta Jingga kembali
            Seperti biasa Awan datang menjenguk Jingga, yang beda adalah ia membawa sebuah boneka teddy bear, boneka yang Jingga anggap sebagai boneka terbaik sepanjang masa.
            “makasih Wan”, ucap Jingga setelah Awan memberikan boneka itu
            Setelah Jingga meminum obatnya, ia terlelap tidur bahkan. Orang yang ada menemani Jingga adalh Awan, Awan pun ikut terlelap disamping Jingga dengan tangannya yang masih menggenggam Jingga
            Awan terbangun dan dia sadar, ia tertidur pulas hingga jam 4 sore.
            “eh uda bangun”, kata Pelangi tiba-tiba muncul dari balik pintu “maaf, aku enggak bangunin kamu. Tadi aku liat tidurnya Jingga pules banget di samping kamu. Kan selama ini Jingga jarang tidur pulas”, jelas Pelangi.
            “hoaaammmzzzz”, Jingga menguap lebar. Ia membuka matanya dan melihat Awan yang bergegas pulang
            “Awan, kamu mau kemanaa???, aku masih butuh kamu”, kata Jingga dengan sisa-sisa tenaganya
            “akuu ehm-“
            “udah lah kamu di sini dulu!”, tambah Pelangi
            “Awan”, panggil Jingga kembali
            “apa? Ing?”
            “akuuu.. ehmm-“, gugup Jingga saat ingin mengatakan jika ia menyanyanginya
            “apa?”, tanya Awan kembali lalu menghampiri Jingga
            “kamu tau Jingga, Awan itu akan indah jika berwarna biru, bukan Jingga, Awan Jingga cenderung akan mendarangkan hujan, dan kamu tau Jingga, Awan rela jika harus ada Awan berwarna Jingga, sekalipun itu mendatangkan hujan”, bijak Awan buat Jingga tersenyum “dan yang terpenting, aku sayang kamu Jingga”, ucap Awan buat Jingga bingung.
            “aku jugaaa Awan”, balas Jingga, Awan pun langsung membelai jidat Jingga sambil tertawa.
            “Awann”
            “apa?”, kata Awan ingin tahu
            “aku, aaakk-u saa-yanng kamuu”, ucap Jingga tebata-bata seolah nafasnya terbatas. Tiba-tiba Jingga menutup matanya perlahan sembari tersenyum
            “jingga?”, sahut Awan
            “jingga”, sahutnya kembali dengan nada berteriak
            “kenapa si kamu?”, gerutu Pelangi yang seolah terganggu “lagi asik baca novel, teriak-teriak!”
            “Ngi, itu Jingga!”, kata Awan sambil menunjuk Jingga
            “kenapa? Tidur kali dia kecapean!”, simple Pelangi
            “beda Ngi, diaaaa… seperrtinya..”, jelas Awan dengan nada putus asa
            “jinggaaa”, teriak Pelangi
            Detak jantung Jingga begitu lemah. Tapi disaat seperti itu Jingga masih bisa terssenyum dengan matanya yang masih terpenjam, hingga tepat pukul 17.30,Jingga pergi, tinggalkan segalanya.
            Kali itu Awan begitu terperuk, ia menangis hingga pemakaman selesai.
            “Wan, mungkin kamu merasa janggal sama kepergian Jingga, tapi Wan, sebenernya Jingga itu kena leukimia !”, jelas Pelangi membongkar rahasia itu pada Awan, orang tua Jingga pun ikut mendegar
            “hah”, mereka menganga sambil mendekap mulut
            “jadi selama ini?”, tabak Ayah Jingga
            “ia om, dia sekarang jarang ketawa karna itu!”, penjelas Pelangi
           
            Kini Awan pun kembali berwarna biru, tanpa Jingga

            The end L
             


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar